Kamis, 10 Mei 2012

Istana Bogor Jadi Tempat Wisata
 
 Istana Bogor
BOGOR - Puluhan ribu warga dan wisatawan diperkirakan mendatangi Istana Bogor Open dan Paledang Fest’12 pada pertengahan Mei mendatang. Kesempatan masyarakat untuk mengunjungi Istana Bogor pada akhir pekan diperkirakan jadi daya tarik utama wisatawan untuk mendatangi Kota Bogor.
”Kami memperkirakan sekitar 70.000 orang berpartisipasi mengikuti acara Istana Bogor Open pada 14-16 Mei dan 19-20 Mei,” tutur Ketua Panitia Istana Bogor Open dan Paledang Fest’12 Mursyida, Rabu (9/5/2012).
Istana Bogor Open dan Paledang Fest’12 diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Jadi Ke-530 Bogor. Masyarakat mendapat kesempatan mengunjungi Istana Bogor dengan didampingi pemandu tanpa dipungut biaya. Masyarakat bisa mendaftar sebelum acara atau pada hari pelaksanaan.
Menurut Mursyida, hingga Rabu siang, setidaknya sudah ada 4.000 orang yang mendaftar untuk mengikuti Istana Bogor Open. Namun, dia memperkirakan jumlah pengunjung akan melampaui peserta tahun lalu yang sekitar 65.000 orang. Pasalnya, tahun ini masyarakat bisa mengunjungi Istana Bogor pada akhir pekan, Sabtu-Minggu (19-20 Mei), sedangkan tahun lalu pengunjung tidak bisa masuk pada akhir pekan.
”Apalagi juga ada Paledang Fest yang kami gelar bersamaan dengan Istana Bogor Open, akan membuat lebih banyak orang datang,” tuturnya.
Agung S Badarudin, pengurus Bogor Heritage, salah satu penyelenggara Paledang Fest’12, menambahkan, dalam festival yang diselenggarakan tidak jauh dari Istana Bogor itu, pengunjung bisa melihat aneka produk seni dan budaya Kota Bogor serta pameran pariwisata.
Surya (25), warga Sindangbarang, Bogor Barat, yang mendaftarkan 15 kerabatnya untuk mengikuti Istana Bogor Open, mengaku belum pernah mengunjungi Istana Bogor. Dia mengaku hendak melihat kamar yang pernah digunakan Presiden Soekarno serta ingin tahu ruangan di dalam Istana Bogor.
Kepala Dinas Pendidikan Kota Bogor, Fetty Qondarsyah mengatakan akan meminta guru secara kolektif mendaftarkan siswanya untuk melihat Istana Bogor. Dia berharap pengalaman menyaksikan kondisi Istana Bogor secara langsung bisa menambah wawasan siswa.
”Kebetulan itu kan setelah ujian sekolah dasar sehingga ada kesempatan juga siswa untuk mengikutinya,” ujar Fetty.

Rabu, 09 Mei 2012

Serayu Jadi Ikon Wisata Banjarnegara
 
 Wisata arung jeram Sungai Serayu di Banjarnegara.
BANJARNEGARA - Sungai Serayu yang berhulu di Dataran Tinggi Dieng akan menjadi ikon wisata Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah. Selain menawarkan paket wisata ekstrem arung jeram, sektor lain yang dikembangkan kini yakni wisata budaya dan agrokultur.
Saatnya Serayu diangkat menjadi ikon Banjarnegara dan dijual sebagai paket wisata.
-- Sutedjo Slamet Utomo
Bupati Banjarnegara Sutedjo Slamet Utomo, Rabu (9/5/2012) mengatakan, Sungai Serayu yang membelah wilayah Banjarnegara memiliki potensi alam dan budaya yang luar biasa namun selama ini belum digarap optimal. "Saatnya Serayu diangkat menjadi ikon Banjarnegara dan dijual sebagai paket wisata," ujarnya.
Sejauh ini, paket wisata Sungai Serayu yang sudah digarap adalah wisata arung jeram. Selain rutin dikunjungi wisatawan domestik dari berbagai daerah di Tanah Air, beberapa kali, Sungai Serayu digunakan sebagai lokasi kegiatan lomba arung jeram tingkat nasional bahkan internasional.
Padahal, kata lanjut Sutedjo, kebudayaan lembah Sungai Serayu sangat beragam dan menarik untuk ditawarkan menjadi daya tarik wisatawan domestik dan mancanegara. Beberapa di antaranya adalah kekayaan batik Gumelem dan sejumlah kuliner khas seperti buntil hingga dawet ayu.
Dia mengakui, Banjarnegara sejauh ini belum terlalu dikenal oleh khalayak luas sebagai destinasi wisata. Namun, sejak berdirinya hotel berbintang di Banjarnegara 2011 lalu, pemkab setempat berniat lebih mempromosikan wilayah yang berada di lintas jalur tengah Jateng ini.
Untuk mendongkrak promosi daerah, Pemkab Banjarnegara menggandeng Pusat Studi Pariwisata Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Hasil kajian ini diharapkan dapat dituangkan dalam kegiatan Festival Serayu yang akan digelar 2013 mendatang sebagai bagian dari program Visit Jateng 2013.

Selasa, 08 Mei 2012

Kota Sengkang, Surga Sutra di Timur Indonesia
 Sengkang kota sutra di Sulawesi Selatan,
WAJO - Kota Sengkang. Nama kota kecil yang berjarak kira-kira 250 kilometer dari Makassar, Sulawesi Selatan ini memang belum banyak terdengar. Namun, siapa yang menyangka, kota ini merupakan surga kerajinan sutra di Indonesia timur. 

Hampir seluruh warga di kota ini menggeluti kerajinan sutra. Bahkan, mereka pun melakukan proses pemeliharaan ulat sutra di rumah-rumah. Seperti pemandangan yang terlihat di sebuah desa di Kecamatan Sabbangparu. Hampir seluruh kolong rumah warga di kampung ini merupakan kandang ulat sutra. Kondisi tanah yang subur memudahkan para warga untuk menanam pohon murbei yang merupakan pakan ulat sutra.

"Dalam sehari kita harus kasih makan lima kali. Baru kalau malam dikasih lampu biar terang," ujar Minintang, salah seorang peternak ulat sutra, Selasa (8/5/2012).  Benang sutra yang dihasilkan dijual dengan harga Rp 340.000 per kilogram.
Seorang pengrajin sutra di Sengkang Kabupaten Wajo Sulawesi Selatan tengah memintal benang dengan peralatan tradisional.
Nah, selain menjual benang, warga juga memanfaatkan benang hasil pintalannya ini dengan bertenun. Mereka menggunakan alat tradisional untuk merangkai untaian benang sutra menjadi bentangan kain yang indah dengan berbagai motif dan corak.

Ada dua jenis alat tenun yang lazim mereka gunakan. Yang pertama adalah alat tenun "bola-bola" dan yang kedua disebut "bola". Meski namanya mirip, namun kedua alat ini tentu berbeda. Alat tenun "bola-bola" digunakan dengan menggunakan kedua tangan serta kaki. Sementara alat tenun "bola" hanya menggunakan tangan yang benangnya dimasukkan satu per satu.

"Kalau 'bola bola' caranya digunakan gampang dan cepat. Tapi kalau yang 'bola' susah dan lama bikinnya, tapi bagus kualitasnya harganya juga mahal," ujar Nurmi salah seorang perajin sutra.

"Bola-bola" mampu menghasilkan satu sarung selama empat hari dengan harga berkisar Rp 60.000- 70.000 per helai. Sementara "bola" memakan waktu lebih lama. Untuk satu buah sarung diperlukan waktu dua bulan. Namun alat tenun bola ini menghasilkan sutra yang berkualitas dengan harga Rp 600.000-900.000 per helainya.
 
Seorang pengrajin sutra di Wajo Sulawesi Selatan tengah menenun kain sutra dengn peralatan tenun "Bolabola" tradisional
Selain corak dan motif yang unik, proses pembuatan hingga pewarnaan masih menggunakan bahan alami. Para perajin Sangkang memakai pucuk daung mangga, getah pohon, daun pandan hingga kunyit untuk memberi aksen pada hasil tenun. Menurut Nurmi, hal ini dilakukan untuk memberikan kualitas warna abadi yang tak termakan usia.

Proses yang sama pun dilakukan saat membuat kain sutra. Menurut Nurmi, kain sutra memungkinkan pembelinya untuk mengkreasikan hasil tenunan sesuai dengan selera. Mereka bisa menjadikannya baju, aksesoris atau bahkan tas.
 
kain sutra Wajo Sulawesi Selatan. dijadikan berbagai macam aksesoris
Sayangnya, hingga kini, produk natural yang membanggakan ini masih terganjal masalah pemasaran. Umumnya, barang-barang istimewa ini dijajakan oleh para perajinnya di pasar-pasar tradisional. Selebihnya, tak ada pilihan lain, kain-kain istimewa itu dijual dengan harga murah kepada pengusaha lokal. Para pengusaha itu yang kemudian mengeruk keuntungan besar dengan mamasarkannya ke mancanegara.

Harga kain pun melambung, namun keuntungan besar didapat oleh pemodal. Jerih para penenun seolah tak terbalas....

Senin, 07 Mei 2012

Kemparekraf Akan Tambah Kota Kreatif
 Perajin menyelesaikan pembuatan kerajinan perak di kawasan Kotagede, Yogyakarta, Rabu (25/8/2010). Kotagede merupakan kawasan di Yogyakarta yang terkenal sebagai industri rumahan kerajinan perak. Berbagai perhiasan dan kerajinan perak dikerjakan secara manual di sini.
JAKARTA - Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif berencana untuk menambah jumlah kota kreatif di Indonesia. "Sudah ada tiga kota kreatif di Indonesia, yaitu Bandung, Solo dan Yogyakarta. Untuk lebih mengembangkan ekonomi kreatif, kami berencana menambah jumlah kota kreatif," kata Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu dalam forum diskusi bersama Financial Club di Jakarta, Senin (7/5/2012).
Mari mengungkapkan saat ini pihaknya masih mencari kota yang berpotensi untuk dikembangkan menjadi kota kreatif. "Oleh karena itu, kami ingin bekerja sama dengan semua pihak, baik pengusaha di bidang kreatif maupun pengusaha lain yang mempunyai program serupa," kata Mari.
Menurut Mari, Indonesia memiliki potensi untuk mengembangkan ekonomi kreatif secara lebih luas, karena memiliki kekayaan alam, seni serta budaya yang merupakan bahan baku dari industri kreatif. "Namun, kendalanya ada pada pembiayaan, pengelolaan serta jangkauan produk kreatif bagi masyarakat luas," kata Mari.
Terkait masalah pembiayaan, Mari menuturkan, pihaknya akan mempelajari formula yang memungkinkan para pengusaha kreatif agar pembiayaannya bisa dibantu oleh pihak perbankan. "Kami akan membuat semacam inkubasi agar pelaku usaha kreatif yang kebanyakan berasal dari industri kecil dapat membuat perencanaan bisnis, mentoring serta tes pasar," kata Mari.
Melalui cara tersebut, Mari berharap para pengusaha industri kreatif dapat memperoleh bantuan pembiayaan dan mengembangkan usaha bisnisnya.

Minggu, 06 Mei 2012

Menikmati "Sunday Brunch" di Seminyak
Sunday Brunch di Sabeen Restaurant, The Haven Seminyak, Bali.
HEADLINE NEWS - Brunch atau jamuan di antara jam normal sarapan dan makan siang biasanya disajikan dalam bentuk prasmanan dan mulai dihidangkan di jam 10.30. Atau, selambatnya jam 11.
Uniknya, sebagian besar restoran di hotel-hotel berbintang yang ada di Bali, sengaja terlambat menyediakan brunch, yaitu di pukul 12.00. Menurut Marketing Communication The Haven Seminyak, Sammy Neno, di Bali memang terbiasa menyajikan brunch saat jam makan siang.
"Kalau jam 10 atau jam 11, tamu-tamunya belum bangun," kata Sammy.
Ya, atmosfer Bali yang terasa liburan, membuat turis inginnya bangun telat dan bersantai-santai lebih lama. Bisa dibilang, brunch pun menjadi hidangan gabungan antara sarapan (breakfast) dan makan siang (lunch).
Tak terkecuali Sabeen Restaurant yang berada di The Haven Seminyak, Bali. Sunday Brunch pun memberlakukan jam yang sama. Agar perut tak kaget, mulai saja dengan makanan kecil sebagai hidangan pembuka ala canape.
Anda tak akan menemukan hidangan sushi dan sashimi ala Jepang ataupun makanan Indonesia, pun mi ala masakan China. Sunday Brunch The Haven Seminyak memfokuskan diri pada kuliner Mediterania.
Tak heran, hidangan yang banyak disajikan adalah menu-menu Barat terutama dari negara-negara Eropa yang berdekatan dengan Laut Mediterania. Sebut saja Italia, Yunani, Perancis, dan Spanyol. Ciri khas utamanya adalah penggunaan minyak zaitun dan metode memasak yang menitikberatkan pada panggang atau bakar dan rebus.
Karena berhubungan dengan Laut Mediterania, penggunaan bahan segar dari laut pun menonjol. Hal tersebut pun tampak dari station yang ada di Sabeen Restaurant pada saat Sunday Brunch. Beberapa station menampilkan bakar ala barbeque dengan sentuhan minyak zaitun.
"Ada sekitar 10 station. Konsepnya open kitchen (dapur terbuka). Mau makan yang mana terlebih dahulu, tergantung Anda. Jika Anda penggemar kuliner Perancis, bisa mencicipi foe gras dan ikan snapper yang dibakar," kata Executive Chef Sabeen Restaurant Clive Allan Pelser, Minggu (29/4/2012).
Penggemar masakan Spanyol, lanjut Pelser, dapat mencicipi pertama kali kuliner Spanyol di station hot dish (hidangan panas). Panas di sini tak sekadar masakan yang disajikan panas-panas, namun juga hentakan pedas dari cabai.
"Spanyol khasnya penggunaan cabai. Di station barbeque, juga ada yang khas Spanyol, udang dibakar dan diberi bumbu cabai," jelasnya.
Di hidangan panas, ada pula makanan khas Perancis yang langka ada di brunch, yaitu escargot atau keong. Escargot yang asin dimasak dengan jamur. Lembut jamur cocok dengan kenyal daging keong.
Sementara masakan Italia direpresentasikan ke station pasta. Selain itu, ada pula omelete station yang menyajikan olahan telur dadar dengan aneka isian sayuran dan bahan laut.
Di salah satu station yang menyediakan hidangan mentah, Anda harus mencoba tiram segar dengan perasan jeruk lemon. Tekstur lembut dengan selintasan aroma laut, begitu halus di lidah.
Tak boleh terlewatkan hidangan penutup. Kue dan puding manis. Lalu chocolate fountain atau air mancur cokelat. Colek marshmallow yang lembut ke cokelat cair yang mengucur. Buah dan es krim juga menjadi hidangan penutup yang manis.
Sunday Brunch tersedia mulai pukul 12.00 sampai 15.00. Harga Sunday Brunch Rp 329.000 untuk semua menu makanan prasmanan. Brunch tentu tak lengkap tanpa minuman cocktail dan wine. Tamu dapat membeli paket minuman seharga Rp 329.000 untuk menikmati aneka minuman sepuasnya, mulai dari sparkling wine, red wine, gin, vodka, tequila, cocktails, beer, jus, smoothies, teh dan kopi, serta mocktail.
Salah satu minuman yang direkomendasikan adalah Mango Margarita, berupa paduan jus mango dan margarita. Begitu menyegarkan dan ringan, cocok diminum di udara panas Bali sambil menikmati olahan laut dengan cita rasa Mediterania.

Sabtu, 05 Mei 2012

Mengenal Lebih Dekat Museum Abdul Djalil
 
 Pengunjung akan disambut patung macan sebelum memasuki gedung museum Abdul Djalil Magelang. Bagi Taruna, binatang ini simbol semangat juang para taruna. 

MAGELANG - Menghabiskan hari libur akhir pekan tidak selalu dilakukan dengan bersenang-senang di taman atau pusat berbelanjaan, namun bisa juga bersenang-senang sambil belajar tentang dunia militer. Mengunjungi Museum Militer adalah salah satu pilihannya.
Di Magelang, Jateng, ada Museum Abdul Djalil, museum yang berada di komplek Akademi Militer (Akmil) Magelang itu menyimpan berbagai benda-benda sejarah yang berhubungan dengan dunia kemiliteran. Museum ini didirikan pada tahun 1964 dengan nama Museum Dharma Bhakti Taruna, kemudian pada tahun 1975 diubah menjadi Museum Taruna Abdul Djalil.
"Nama Abdul Djalil sendiri, adalah nama seorang alumni Akmil Yogyakarta yang telah gugur di medan perang saat berlangsungnya agresi militer kedua. Dia memiliki dedikasi yang luar biasa, juga memiliki keahlian di bidang seni, sastra, musik, dan lain-lain," terang Perwira Urusan Museum, Letnan 1 Infanteri, AD Martono.
Seekor macan Tidar jantan yang telah diawetkan di dalam sebuah kotak berkaca akan menyambut pengunjung sebelum memasuki gedung museum. Menurut Martono, macan tersebut adalah macan liar yang saat itu hidup di sekitaran Gunung Tidar. Sementara macan Tidar betina, disimpan di dalam ruang Akabri.
Macan adalah simbol semangat juang para taruna, karena itu selain dijadikan obyek wisata bagi masyarakat umum untuk lebih mengenal sejarah kemiliteran, museum ini didirikan juga untuk menanamkan jiwa nasionalisme dan patriot bagi taruna itu sendiri.
Pengunjung di museum ini lebih banyak para anak-anak sekolah dari berbagai daerah seperti Jawa Timur dan Jawa Barat. Per minggu, rata-rata terdapat sekitar 200 orang pengunjung, dan tidak dikenai tarif masuk, hanya diminta kesadarannya untuk memberikan uang perawatan secara sukarela.
"Kita tidak memasang tarif, karena semuanya demi pendidikan nasionalisme. Hanya saja, ketika ada pengunjung yang melebihi 10 orang, maka harus memberikan surat pemberitahuan terlebih dahulu dan ditujukan kepada Gubernur Akmil, apabila disetujui maka baru dipersilakan masuk," jelasnya.
Museum yang memiliki dua lantai dengan luas bangunan sekitar 980 meter persegi ini, terdapat tujuh ruang, antara lain ruang auditorium yang menampilkan film pendek sejarah berdirinya Akmil Magelang. Kemudian ruang pra-Akademi Militer Nasional (AMN), ruang AMN, ruang AKABRI, ruang Akmil, ruang koleksi senjata laras panjang dan pistol, dan ruang batik taruna yang berisi foto alumni berprestasi. Juga ditambah taman meriam yang berada di komplek luar gedung museum.
Memasuki ruang senjata, simpan kamera Anda, sebab setiap pengunjung dilarang keras membawa kamera dalam bentuk apa pun, termasuk kamera yang terdapat pada handphone. Bahkan demi kepentingan nasional, ruang ini juga tertutup untuk wisatawan asing. Mereka hanya dipersilakan berkunjung di ruang yang lain tapi tidak untuk ruang senjata.
"Ruang senjata memang tidak diperbolehkan karena dihawatirkan akan terpublikasi dan dapat dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab," tegas Kepala Urusan Museum, Kapten Agam Martaweli CBA.
Di ruang senjata ini, terdapat sebanyak 400 jenis senjata, baik pistol dan senjata laras panjang berbagai ukuran dan karakternya, serta artileri. Senjata-senjata tersebut bukan hanya senjata yang biasa dipakai oleh tentara, namun juga terdapat senjata yang biasa digunakan oleh personel kepolisian. Bahkan, juga terdapat senjata-senjata yang digunakan oleh para anggota PKI dalam tragedi G 30 S/PKI. Sebagian senjata masih digunakan di lapangan.
Bahkan di museum ini juga terdapat dua senjata pistol emas. Pistol emas tersebut salah satunya adalah sumbangan dari Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno (mantan Wapres RI) yang merupakan pistol yang digunakan untuk memberangus PKI. Sedangkan pistol emas kedua adalah sumbangan dari Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu (mantan Kepala Staf TNI AD).
Di ruang yang lain, yakni ruang batik taruna terdapat foto-foto alumni yang berprestasi, baik di bidang kemiliteran maupun di bidang pemerintahan. Tentunya, foto Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono yang merupakan alumni terbaik AKABRI/Akmil tahun 1973 juga terpasang cukup spesial di ruang ini. Untuk menghormati dan mengenang para taruna yang wafat, di museum ini juga terdapat foto-foto taruna yang telah gugur di medan tempur saat dikirim ke Timor Timur maupun ke Aceh.

Jumat, 04 Mei 2012

Semarak Naik Dango di Sungai Ambawang
Gubernur Kalbar Cornelis saat membuka ritual naik dango (Foto: Dina/Okezone)
Gubernur Kalbar Cornelis saat membuka ritual naik dango
PONTIANAK - Perayaan naik dango, ritual setahun sekali yang dilaksanakan oleh suku Dayak Kanayan berlangsung meriah di Desa Lingga, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Ribuan masyarakat memenuhi lapangan rumah panjang adat Dayak yang ada di Desa Lingga, Kecamatan Sungai Ambawang, mulai sekira pukul 09.00 WIB, baru-baru ini.

Kali ini, Kabupaten Kubu Raya terpilih sebagai tuan rumah pelaksanaan perayaan naik dango yang disambut masyarakat sekitar sebagai sebuah perayaan wajib tiap tahun. Aktivitas ini wajib mereka ikuti sebagai rasa syukur menyimpan hasil panen padi mereka selama setahun.

Masyarakat yang hadir berasal dari Kabupaten Kubu Raya, Kabupaten Pontianak, dan Kabupaten Landak. Upacara adat diisi dengan tarian dari kontingen tingkat kecamatan untuk mengarak berbagai simbol dan menarikan tarian khas naik dango yang dibawakan para remaja Dayak Kanayan.

Menurut Gubernur Kalimantan Barat Cornelis, naik dango mengingatkan masyarakat Dayak bahwa mereka terhubung langsung dengan alam sekitar, juga kepada Sang Jubata untuk mengucap syukur atas berkah yang diterima oleh masyarakat Suku Kanayan.

“Perayaan ini mengingatkan kita untuk selalu bersyukur atas berkah yang diberikan Tuhan kepada kita,” katanya pada pembukaan naik dango.

Memang, saat ini banyak kemajuan bidang transportasi dan komunikasi yang membuat banyak orang terbuka akan informasi dan pengalaman budaya lainnya sehingga mempengaruhi gaya hidup seseorang atau masyarakat. Namun, Cornelis berharap masyarakat Dayak Kanayan dapat melakukan penyesuaian dengan gaya hidup modern di luar lingkungan mereka.

”Dengan banyaknya informasi yang terbuka dengan hidup modern, membuat generasi muda tidak terlalu tertarik dengan hal berbau tradisional. Perayaan naik dango ini harus dilestarikan,” harapnya.

Kepala Dinas Pariwisata Kalimantaran Barat Yusri Zainuddin mengatakan upacara naik dango dilakukan oleh masyarakat suku Dayak yang bertujuan melestarikan budaya daerah sebagai khasanah budaya Nasional.

“Selain memberikan dampak positif terhadap dinamika pembangunan dan ekonomi di tiap-tiap kecamatan,” katanya.

Budaya khas Dayak ini, dikatakan Yusri, dapat menonjolkan peningkatan hasil panen padi. Selain peningkatan sumber daya manusia bidang pertanian juga merupakan upacara yang unik untuk dilihat dan menarik banyak wisatawan mancanegara dan wisatawan lokal yang datang ke Kalimantan Barat.

“Jelas kami berharap dengan acara tahunan ini, banyak wisawatan yang datang ke Kalbar karena naik dango merupakan ritual adat Dayak yang unik dan layak dinikmati banyak orang,” jelasnya.

Hadir dalam perayaan Naik Dango, Ketua DPRD Kalbar Minsen bersama seluruh Kepala SKPD, beberapa pejabat di kabupaten, seperti Bupati Kubu Raya Muda Mahendrawan dan Pejabat dari Polda Kalbar.