Minggu, 29 April 2012

Wisata di Pekarangan Rumah Pejabat
Tak perlu mati gaya lagi mencari lokasi wisata di Jakarta bareng buah hati tercinta. Ada banyak kok pilihan selain Ancol, Taman Mini Indonesia Indah, ataupun Ragunan. Coba deh sambangi Taman Indraloka di kawasan Ceger, Jakarta Timur. Atau pilihan lainnya adalah Kampung Main Cipulir di Jakarta Selatan.
Satu hal yang asyik kalau mampir ke Taman Indraloka, tak perlu budget banyak. Cukup mengeluarkan uang Rp 3.000 untuk parkir jika bawa kendaraan. Terhitung entenglah bayar segitu meski masuk taman lain di Jakarta enggak perlu bayar.

Cuma perlu diingat, taman seluas kurang lebih dua hektare ini bukan taman milik Pemprov DKI, tapi murni milik pribadi mantan Kepala Badan Intelejen Indonesia Jenderal (Purn) Hendropiyono. Sang jenderal baru membuka taman di Jl. Mandor Hasan No. 45 ini untuk umum sekitar Maret tahun lalu.
”Taman Indraloka ini sebagai tempat hiburan yang terjangkau, meriah, edukatif dan menyenangkan," kata Wakil Manager Taman Indraloka, Asep Ricky.
Jangan anggap remeh taman satu ini. Kebanyakan yang baru pertama kali menginjakkan kaki di Taman Indraloka bakal terkagum-kagum. Di kawasan ini, pengunjung tak hanya menikmati kesegaran udara saja melainkan dihibur dengan tingkah laku lucu satwa-satwa unik, baik yang berkeliaran bebas maupun di sangkar.

Seluruh satwa itu ada di Pondok Satwa. Ada koleksi beragam jenis unggas, rusa, landak, hingga walabi alias kangguru mungil yang habitatnya di Papua sana. Lagi pula, pengunjung bisa merasakan aura Kebon Raya Bogor di sini. Pohon-pohonnya diberi nama latin dan ada penjelasannya. Menariknya, pohon itu termasuk jarang ditemui di Jakarta lho!

Asyiknya lagi, ada factory outlet. Pengunjung yang hobi shopping pastinya bersorak. Koleksi gerai factory outlet sangat lengkap. Mulai dari busana orang dewasa sampai anak-anak. Bisa kalap kalau lihat jejeran busana yang dipajang di sana. Seolah belanja di factory outlet Bandung.

Lelah keliling taman, pastinya perut keroncongan nih. Tak perlu khawatir. Soalnya ada dua pendopo dengan desain rumah Joglo yang berfungsi sebagai restoran. Rupa-rupa makanannya. Mulai dari nasi goreng, sop buntut,dan ada olahan sosis dari Rumah Sosis asal Bandung. Tuh, komplet bukan!

Pilihan lainnya adalah ke Kampung Main Cipulir (KMC) di Jl Masjid Cidodol, Gang H Sairi No 1A Grogol Selatan, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Kawasan ini memang didesain sebagai obyek wisata alam terbuka. Kalau Taman Indraloka miliknya Hendropiyono, nah KMC juga dimiliki mantan pejabat tinggi Siswono Yudhohusodo.

Menurut Marketing KMC Heni, konsep yang diangkat adalah rekreasi sederhana dengan permainan merakyat, lengkap, terjangkau, dan menyenangkan. Kelebihan Kampung Main Cipulir dibandingkan tempat outbound yang lain adalah kelengkapan arena bermainnya dan berada di tengah kota. Dengan begitu, kendala transportasi dan waktu dapat lebih diefisienkan serta kelelahan selama perjalanan dapat dihindari.

Fasilitasnya lengkap. Ada kolam lumpur, labirin, ATV, berkuda, kolam renang, area refleksologi. Tak ketinggalan, ada penginapan ala Rumah Adat Betawi dengan dua kamar tidur double bed, kamar mandi, dan ruang tamu. Jadilah dua lokasi wisata taman ini menjadi alternatif melepas penat di kala rehat tanpa mesti jauh-jauh ke luar kota.

Sabtu, 28 April 2012

Jangan Lewatkan Perang Obor di Jepara

 Berbicara tentang pariwisata Jawa Tengah, ingatan biasa langsung melayang ke Candi Borobudur yang terletak di Magelang, Dieng, Semarang, ataupun Solo. Padahal, Jawa Tengah memiliki 35 kabupaten dan kota. Masing-masing memiliki daya tarik wisata andalannya.

Salah satunya adalah Jepara yang tenar dengan kursi-kursi kayu jati dan Karimun Jawa. Nah, akhir pekan Anda bisa mampir ke Jepara, tak hanya untuk menikmati keindahan Karimun Jawa, tetapi mengikuti tradisi unik festival obor yang akan berlangsung pada 28 April 2012 ini.

Sesuai namanya, yaitu Perang Obor Tegalsambi, ritual tradisional di kegelapan malam ibarat perang api. Perang obor menjadi ciri khas Desa Tegalsambi dan merupakan ritual kuno sejak awal abad ke-16.

Konon, perang obor dimulai oleh seorang tokoh desa bernama Kiai Babadan dan abdinya yang bernama Ki Gemblong. Ritual sedekah bumi diyakini untuk menghindari desa dari segala bala. Oleh karena itu, perang obor biasa dilakukan tergantung masa panen.

Obor yang digunakan sendiri terbuat dari pelepah dan daun kelapa yang sudah kering. Adu obor terus berlangsung sampai obor-obor habis. Luka bakar pun tak terhindari. Namun, uniknya, luka bakar dari peserta akibat bara bisa diobati dengan air bertuah yang diberikan tokoh adat setempat.

Keesokan harinya, Anda bisa menelusuri pantai-pantai yang ada di Jepara, seperti Pantai Bandengan yang berada sekitar tujuh kilometer ke utara dari pusat Kota Jepara. Pantai berpasir putih ini cocok untuk tempat berenang dan tempat favorit untuk melihat matahari terbenam.

Bisa juga mampir ke Pantai Bondo, Pantai Kartini, atau Pantai Empuk Rancak. Pantai Empuk Rancak awalnya kalah tenar dengan pantai-pantai lainnya di Jepara. Namun, sejak penduduk lokal secara mandiri mengelola pantai ini, Pantai Empuk Rancak mulai ramai dikunjungi wisatawan.

Apalagi di tempat ini banyak warung-warung makan seafood. Menikmati hidangan laut yang segar di tepi pantai berpasir putih pasti terasa nikmat. Pantai ini berada di Desa Karang Gondang.

Anda penggemar wisata sejarah? Maka, arahkan perjalanan ke sebuah benteng Portugis yang berada di Desa Banyumanis. Letaknya agak jauh dari pusat Kota Jepara, yaitu sekitar 45 kilometer ke arah utara. Perjalanan menuju benteng akan melewati jalanan yang kanan dan kiri jalannya ditumbuhi pohon berusia ratusan tahun. Peninggalan kolonial Portugis ini dibangun pada 1632.

Wisata kuliner pun tak bisa dilewatkan. Coba cicipi aneka makanan tradisional klenyem, kenyol, dan nagasar, yang merupakan jajanan tradisional. Ada pula pindang srani yang terbuat dari ikan kerapu dengan kuah kuning. Salah satu tempat berburu kuliner Jepara adalah di Shopping Center Jepara.

Menuju Jepara sangatlah mudah. Dari Jakarta bisa naik bus dari Terminal Rawamangun, Terminal Kampung Rambutan, atau Terminal Lebak Bulus, dengan kisaran tiket Rp 350.000 pergi-pulang. Jika dengan kereta api, bisa naik kereta ekonomi Kertajaya dari Stasiun Senen. Lebih nyaman dengan kereta eksekutif Sembrani atau kereta kelas bisnis Gumarang dari Stasiun Gambir.

Jumat, 27 April 2012

Juni, Ancol Menggelar Kompetisi Kembang Api
Pertunjukan kembang api selama 25 menit dengan sinkronisasi koreografi kembang api diatas permukaan air laut dengan musik berlangsung di Beach Pool, Ancol Taman Impian, Jakarta Utara, Sabtu (28/1/2012). Pertunjukan tersebut memecahkan rekor kembang api tahun lalu selama 20 menit. 

JAKARTA - Indonesia akan menjadi tuan rumah pada pergelaran acara kompetisi kembang api terbesar dan spektakuler bertaraf internasional yang akan berlangsung di Taman Impian Jaya Ancol pada 15-17 Juni 2012.
Acara yang dinamakan Indonesia International Fireworks ini, merupakan kompetisi kembang api bertaraf internasional terbesar hasil karya dari 5 negara seperti Prancis, Australia, Argentina, Maroko, dan China yang pertama diadakan di Indonesia.
Indonesia International Firworks Festival 2012 ini berkat kerja sama dari berbagai pihak yaitu Taman Impian Jaya Ancol, Comet Fireworks, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif dan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta.
"Festival kembang api yang merupakan acara bertaraf internasional dan juga yang pertama diadakan di Indonesia, sudah direncanakan selama dua tahun terakhir. Ada keinginan untuk menyuguhkan masyarakat sebuah tontonan yang indah dan spektakuler," kata Direktur Marketing Taman Impian Jaya Ancol, Wiranto saat konferensi pers di Planet Hollywood Jakarta, Kamis (26/4/2012).
Acara ini akan menampilkan kompetisi kembang api oleh dua negara setiap harinya. Hari pertama menampilkan kembang api dari negara Prancis dan Argentina. Hari kedua menampilkan Maroko dan China. Hari terakhir menampilkan kembang api dari Australia dan Indonesia sebagai penutup acara.
Selain festival kembang api akan ada acara pertunjukkan musik dimeriahkan oleh musisi nasional seperti RAN, The Groove, KLA Project, juga DJ nasional dan internasional. Tidak ketinggalan dalam acara ini akan menyuguhkan koreografi kembang api yang memamerkan budaya dari masing-masing negara seperti kuliner khas jakarta. Ada juga video mapping atau proyeksi video di air dan juga berbagai aktivitas seperti jetski.
Untuk harga tiket pada festival ini para pengunjung akan dikenakan biaya sebesar Rp 100.000 pada hari Jumat (15/6/2012) dan Minggu (17/6/2012). Sedangkan pada hari Sabtu (16/6/2012) dikenakan biaya sebesar Rp 150.000. Tetapi jika Anda ingin datang 3 hari berturut-turut Anda dapat membeli 3 days-pass dengan harga tiket sebesar Rp 250.000.

Kamis, 26 April 2012

Sebuah Kampung di Kaki Gunung
 
Kampung Citalahab Sentral yang berada di tengah kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak.
Kampung ini terpencil di antara hutan, gunung, dan bentangan perkebunan teh. Penduduknya hanya 60 orang. Mereka hidup secara swadaya, berumur panjang, dan awet muda. Satu kebutuhan pokok yang mereka rindukan: sekolah.
Azan magrib sudah mengumandang ketika atap-atap rumah kampung Citalahab Sentral tertangkap pandangan mata. Kampung yang berada di tengah-tengah Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNHS), Jawa Barat, ini dicapai setelah hampir tiga jam berkendara di jalanan berlumpur dan berbatu, melewati hutan dan melipir hektaran kebun teh.
Senyap. Suara jangkrik riuh bersahutan. Lamat-lamat terdengar gemuruh air sungai di kejauhan. Dari sebuah teras rumah, seorang perempuan muda dan anak balita menyambut ramah. Raut mukanya seperti mengabarkan, usianya sekitar 20-an tahun. Nani, nama perempuan itu, kemudian mempertemukan kami dengan suaminya.
Seperti halnya semua pemilik rumah di kampung itu, Nani juga menyewakan kamar-kamar di rumahnya. Secara berkala, para peneliti dari dalam dan luar negeri menyewa kamar mereka dalam hitungan minggu atau bulan.
Kamar-kamar itu berdinding kayu dengan perabotan sederhana. Hanya ada sebuah tempat tidur dengan kasur dan bantal lusuh, serta selembar selimut. Ruang tamu nyaris tak berperabot. Lantai kayu dilapisi karpet untuk menahan angin dingin yang menyelusup melalui celah-celahnya. Namun, embusan angin malam itu kelewat kencang, sampai-sampai karpet pun terangkat.
Malam semakin larut, satu per satu lampu di rumah-rumah yang letaknya berdekatan itu dinyalakan, berkelap-kelip tak ubahnya kelompok kunang-kunang di kegelapan malam. ”Kampung ini baru resmi dialiri listrik sekitar empat tahun lalu. Tetapi, sebetulnya sejak tahun 1999, kami sudah menikmati listrik dengan turbin air buatan sendiri,” kata Ade, adik Nani, yang sehari-hari menjadi pemandu TNHS.
Kebutuhan air warga diambil langsung dari mata air di Gunung Kendeng melalui pipa-pipa buatan sendiri. Begitu derasnya aliran yang masuk ke bak-bak tampungan membuat air bening kebiruan itu melimpah ruah terbuang ke parit-parit di sekeliling. ”Tolong jangan ditutup kerannya karena nanti pipa-pipanya bisa hancur,” kata Ade melihat gelagat tangan kami yang secara refleks ingin menutup keran karena tak tahan mendengar limpahan air terbuang.
”Air dari sini dialirkan kembali ke balong-balong ikan, ke taman-taman, dan akhirnya ke sungai,” ujar Ade yang usianya 33 tahun, tetapi wajahnya semuda anak SMA. Demikian juga Nani yang sudah mendekati usia kepala empat, wajahnya masih kencang seperti remaja.
Rupanya awet muda dan panjang umur bukan hal aneh di kampung ini. ”Nenek saya usianya sudah lebih dari 100 tahun, beliau masih suka jalan-jalan sendiri. Ibu saya usianya sudah 70-an, tetapi setiap hari masih bisa jalan kaki 1 kilometer ke desa tetangga,” ujar Ade.
Hujan makin menderas, angin menderu-deru. Batang-batang pohon di halaman rumah bergoyang keras, kadang rantingnya menerpa dinding rumah, menimbulkan suara berderik. Awan gelap tanpa bintang. Dingin semakin menusuk badan.
Permai
Subuh baru saja beranjak, tetapi celoteh ramai anak-anak sudah terdengar dari balik jendela. Dengan balutan jas hujan dan sepatu bot karet, anak-anak ini ”siap tempur” menuju sekolah. Jarak kampung ini ke sekolah dasar terdekat sekitar 3 kilometer. Kaki-kaki kecil itu harus melewati jalanan berbatu dan menanjak sekitar satu jam perjalanan.
Dari ketinggian, barulah terlihat betapa permainya kampung yang dikelilingi deretan gunung ini. Dari arah barat berjajar Gunung Endut, Gunung Halimun, Gunung Sanggabuana (Kendeng), dan Gunung Talaga. Dari arah timur terlihat Gunung Salak, Gede, dan Pangrango.
Di ”beranda” belakang terhampar sawah hijau yang berundak-undak mengikuti kontur Sungai Cikadang yang membelah kampung, dan kemudian berangsur menyatu dengan kepekatan hutan hujan tropis yang masih perawan. Di halaman depan, sejauh mata memandang yang terlihat adalah bentangan kebun teh dengan pohon-pohonnya yang rapat. Perkebunan teh peninggalan masa kolonial Belanda itu luasnya hampir 1.000 hektar.
Mengitari kampung ini bisa dengan melalui hutan yang jalan masuknya ada di belakang kampung, dan kembali melalui jalan setapak perkebunan teh. Waktu yang dibutuhkan sekitar 3 jam dengan berjalan kaki santai. Sungguh perjalanan pagi yang menenangkan. Bersentuhan dengan kabut tipis, menyaksikan embun yang masih menempel di daun-daun, menghirup dalam-dalam oksigen murni yang terkumpul di kaki gunung.
Di tengah rintik hujan, para perempuan pemetik teh yang berasal dari berbagai kampung di Desa Mulasari mengumpulkan karung-karung berisi daun teh di pinggir jalan. Mereka menanti datangnya truk pengangkut. Icih, perempuan berusia lima puluhan tahun, mengibas-ngibaskan kainnya yang basah dan penuh percikan lumpur. Perempuan ini sudah bekerja di perkebunan ini lebih dari 30 tahun sebagai pemetik teh. ”Anak saya sekarang juga kerja di perkebunan ini, sama dengan saya,” tuturnya dalam bahasa Sunda.
Namun, kehidupan Icih sepertinya tidak beranjak banyak. ”Dulu, upah saya bisa mencukupi untuk hidup sebulan, sekarang makin sulit,” katanya sambil membersihkan jari-jari tangannya di parit.
Icih bekerja sejak pukul 06.00 sampai pukul 13.00. Jika sedang beruntung mendapatkan pucuk-pucuk teh yang muda dan segar, ia bisa mengumpulkan upah sampai Rp 250.000 sebulan. Tapi di saat sulit—kala daun-daun teh yang dikumpulkannya tidak memenuhi standar pabrik—ia pernah hanya memperoleh Rp 90.000 per bulan. ”Sekarang hidup makin susah, apa-apa mahal,” kata Icih.
Butuh sekolah
Desa nan permai ini menyimpan banyak cerita tentang pergulatan keras warganya. Ade, misalnya, bercerita bagaimana ia harus berlapang dada menamatkan pendidikannya hanya sampai bangku SMP karena pada tahun 1990-an ia harus ke Bogor bila ingin melanjutkan sekolah ke bangku SMA. ”Untuk bersekolah ke SMP pun waktu itu saya harus jalan kaki setengah hari, tapi saya lakoni. Kalau ingin meneruskan ke SMA orangtua saya tak mampu,” kata Ade.
Hampir dua puluh tahun kemudian, kejadian serupa masih menimpa keponakannya, Yanti. Tahun lalu, Yanti lulus dari SMP terbuka, tetapi ia menjadi satu-satunya anak di sekolah itu yang tidak melanjutkan ke SMA karena orangtuanya tak mampu.
”Anak saya sampai menangis terus ingin sekolah. Tapi biaya dari mana? SMA letaknya jauh dari sini. Kalau mau melanjutkan ke SMA harus kos dan biayanya paling sedikit Rp 500.000 per bulan. Sementara suami saya gajinya hanya Rp 1 juta, itu pun kadang tidak utuh karena sudah dipotong untuk bayar utang. Jadi saya paksa anak saya untuk bekerja,” kata Yayat, sang ibu.
Di Kampung Citalahab Sentral yang penduduknya hanya 18 keluarga itu, satu sama lain saling berkerabat. Sejarah mereka sudah melintasi empat generasi. Warganya mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan upaya mandiri. Beras dihasilkan dari sawah garapan sendiri, ikan diambil dari balong, sayuran dipetik dari kebun di belakang rumah. Penghasilan tambahan diperoleh dari penyewaan kamar dan bekerja di kebun teh.
Namun, untuk soal yang satu itu—pendidikan formal, mereka memang bergantung pada pemerintah. Dan setelah hampir 67 tahun Indonesia merdeka, mereka masih tetap menunggu kehadiran sekolah setingkat SMA di desanya....