Kampung Citalahab Sentral yang berada di tengah kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak.
Kampung ini terpencil di antara hutan, gunung, dan bentangan
perkebunan teh. Penduduknya hanya 60 orang. Mereka hidup secara swadaya,
berumur panjang, dan awet muda. Satu kebutuhan pokok yang mereka
rindukan: sekolah.
Azan magrib sudah mengumandang ketika atap-atap
rumah kampung Citalahab Sentral tertangkap pandangan mata. Kampung yang
berada di tengah-tengah Taman Nasional Gunung Halimun-Salak (TNHS),
Jawa Barat, ini dicapai setelah hampir tiga jam berkendara di jalanan
berlumpur dan berbatu, melewati hutan dan melipir hektaran kebun teh.
Senyap.
Suara jangkrik riuh bersahutan. Lamat-lamat terdengar gemuruh air
sungai di kejauhan. Dari sebuah teras rumah, seorang perempuan muda dan
anak balita menyambut ramah. Raut mukanya seperti mengabarkan, usianya
sekitar 20-an tahun. Nani, nama perempuan itu, kemudian mempertemukan
kami dengan suaminya.
Seperti halnya semua pemilik rumah di
kampung itu, Nani juga menyewakan kamar-kamar di rumahnya. Secara
berkala, para peneliti dari dalam dan luar negeri menyewa kamar mereka
dalam hitungan minggu atau bulan.
Kamar-kamar itu berdinding kayu
dengan perabotan sederhana. Hanya ada sebuah tempat tidur dengan kasur
dan bantal lusuh, serta selembar selimut. Ruang tamu nyaris tak
berperabot. Lantai kayu dilapisi karpet untuk menahan angin dingin yang
menyelusup melalui celah-celahnya. Namun, embusan angin malam itu
kelewat kencang, sampai-sampai karpet pun terangkat.
Malam semakin
larut, satu per satu lampu di rumah-rumah yang letaknya berdekatan itu
dinyalakan, berkelap-kelip tak ubahnya kelompok kunang-kunang di
kegelapan malam. ”Kampung ini baru resmi dialiri listrik sekitar empat
tahun lalu. Tetapi, sebetulnya sejak tahun 1999, kami sudah menikmati
listrik dengan turbin air buatan sendiri,” kata Ade, adik Nani, yang
sehari-hari menjadi pemandu TNHS.
Kebutuhan air warga diambil
langsung dari mata air di Gunung Kendeng melalui pipa-pipa buatan
sendiri. Begitu derasnya aliran yang masuk ke bak-bak tampungan membuat
air bening kebiruan itu melimpah ruah terbuang ke parit-parit di
sekeliling. ”Tolong jangan ditutup kerannya karena nanti pipa-pipanya
bisa hancur,” kata Ade melihat gelagat tangan kami yang secara refleks
ingin menutup keran karena tak tahan mendengar limpahan air terbuang.
”Air
dari sini dialirkan kembali ke balong-balong ikan, ke taman-taman, dan
akhirnya ke sungai,” ujar Ade yang usianya 33 tahun, tetapi wajahnya
semuda anak SMA. Demikian juga Nani yang sudah mendekati usia kepala
empat, wajahnya masih kencang seperti remaja.
Rupanya awet muda
dan panjang umur bukan hal aneh di kampung ini. ”Nenek saya usianya
sudah lebih dari 100 tahun, beliau masih suka jalan-jalan sendiri. Ibu
saya usianya sudah 70-an, tetapi setiap hari masih bisa jalan kaki 1
kilometer ke desa tetangga,” ujar Ade.
Hujan makin menderas, angin
menderu-deru. Batang-batang pohon di halaman rumah bergoyang keras,
kadang rantingnya menerpa dinding rumah, menimbulkan suara berderik.
Awan gelap tanpa bintang. Dingin semakin menusuk badan.
Permai
Subuh
baru saja beranjak, tetapi celoteh ramai anak-anak sudah terdengar dari
balik jendela. Dengan balutan jas hujan dan sepatu bot karet, anak-anak
ini ”siap tempur” menuju sekolah. Jarak kampung ini ke sekolah dasar
terdekat sekitar 3 kilometer. Kaki-kaki kecil itu harus melewati jalanan
berbatu dan menanjak sekitar satu jam perjalanan.
Dari
ketinggian, barulah terlihat betapa permainya kampung yang dikelilingi
deretan gunung ini. Dari arah barat berjajar Gunung Endut, Gunung
Halimun, Gunung Sanggabuana (Kendeng), dan Gunung Talaga. Dari arah
timur terlihat Gunung Salak, Gede, dan Pangrango.
Di ”beranda”
belakang terhampar sawah hijau yang berundak-undak mengikuti kontur
Sungai Cikadang yang membelah kampung, dan kemudian berangsur menyatu
dengan kepekatan hutan hujan tropis yang masih perawan. Di halaman
depan, sejauh mata memandang yang terlihat adalah bentangan kebun teh
dengan pohon-pohonnya yang rapat. Perkebunan teh peninggalan masa
kolonial Belanda itu luasnya hampir 1.000 hektar.
Mengitari
kampung ini bisa dengan melalui hutan yang jalan masuknya ada di
belakang kampung, dan kembali melalui jalan setapak perkebunan teh.
Waktu yang dibutuhkan sekitar 3 jam dengan berjalan kaki santai. Sungguh
perjalanan pagi yang menenangkan. Bersentuhan dengan kabut tipis,
menyaksikan embun yang masih menempel di daun-daun, menghirup
dalam-dalam oksigen murni yang terkumpul di kaki gunung.
Di tengah
rintik hujan, para perempuan pemetik teh yang berasal dari berbagai
kampung di Desa Mulasari mengumpulkan karung-karung berisi daun teh di
pinggir jalan. Mereka menanti datangnya truk pengangkut. Icih, perempuan
berusia lima puluhan tahun, mengibas-ngibaskan kainnya yang basah dan
penuh percikan lumpur. Perempuan ini sudah bekerja di perkebunan ini
lebih dari 30 tahun sebagai pemetik teh. ”Anak saya sekarang juga kerja
di perkebunan ini, sama dengan saya,” tuturnya dalam bahasa Sunda.
Namun,
kehidupan Icih sepertinya tidak beranjak banyak. ”Dulu, upah saya bisa
mencukupi untuk hidup sebulan, sekarang makin sulit,” katanya sambil
membersihkan jari-jari tangannya di parit.
Icih bekerja sejak
pukul 06.00 sampai pukul 13.00. Jika sedang beruntung mendapatkan
pucuk-pucuk teh yang muda dan segar, ia bisa mengumpulkan upah sampai Rp
250.000 sebulan. Tapi di saat sulit—kala daun-daun teh yang
dikumpulkannya tidak memenuhi standar pabrik—ia pernah hanya memperoleh
Rp 90.000 per bulan. ”Sekarang hidup makin susah, apa-apa mahal,” kata
Icih.
Butuh sekolah
Desa nan permai ini
menyimpan banyak cerita tentang pergulatan keras warganya. Ade,
misalnya, bercerita bagaimana ia harus berlapang dada menamatkan
pendidikannya hanya sampai bangku SMP karena pada tahun 1990-an ia harus
ke Bogor bila ingin melanjutkan sekolah ke bangku SMA. ”Untuk
bersekolah ke SMP pun waktu itu saya harus jalan kaki setengah hari,
tapi saya lakoni. Kalau ingin meneruskan ke SMA orangtua saya tak
mampu,” kata Ade.
Hampir dua puluh tahun kemudian, kejadian serupa
masih menimpa keponakannya, Yanti. Tahun lalu, Yanti lulus dari SMP
terbuka, tetapi ia menjadi satu-satunya anak di sekolah itu yang tidak
melanjutkan ke SMA karena orangtuanya tak mampu.
”Anak saya sampai
menangis terus ingin sekolah. Tapi biaya dari mana? SMA letaknya jauh
dari sini. Kalau mau melanjutkan ke SMA harus kos dan biayanya paling
sedikit Rp 500.000 per bulan. Sementara suami saya gajinya hanya Rp 1
juta, itu pun kadang tidak utuh karena sudah dipotong untuk bayar utang.
Jadi saya paksa anak saya untuk bekerja,” kata Yayat, sang ibu.
Di
Kampung Citalahab Sentral yang penduduknya hanya 18 keluarga itu, satu
sama lain saling berkerabat. Sejarah mereka sudah melintasi empat
generasi. Warganya mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan upaya
mandiri. Beras dihasilkan dari sawah garapan sendiri, ikan diambil dari
balong, sayuran dipetik dari kebun di belakang rumah. Penghasilan
tambahan diperoleh dari penyewaan kamar dan bekerja di kebun teh.
Namun,
untuk soal yang satu itu—pendidikan formal, mereka memang bergantung
pada pemerintah. Dan setelah hampir 67 tahun Indonesia merdeka, mereka
masih tetap menunggu kehadiran sekolah setingkat SMA di desanya....